Penghujung senja
Aku belum siap. Untuk setiap kata pada hari yang akan berganti,aku masih mencinta dengan senja. Dengan pesonanya,aromanya,dan perasaan berpadu kasih yang tak kenal pulang. Menikmatinya bersama sahabat dengan suasana sayu merayu pohon kelapa,bukankah itu damai?
Membiarkan angin menidurkan sunyi,lalu dengan sengaja berkelok lembut menyapu rambut. Sungguh,perasaan tenang dan bahagia mana lagi yang bisa menggantikan itu,dibanding rutinitas membosankan dan suntikan asap ibu kota,hidup di pantai mungil bersama orang yang kita senangi terasa lebih berwarna.
Anak ombak yang tarik-menarik pasir dengan manja,kicauan burung-burung trinil yang saling berpamitan,dan tawa riang anak kota di lalap alam,bukankah itu indah? Gelembung-gelembung yang terhempas pada setiap jarak ketika menyusuri terumbu karang,anemon-anemon mungil yang melambai dan bersapa ramah,lalu rumput laut yang menjadi jajanan bagi para ikan kerapu. Bagiku itu semua adalah pemandangan tak ternilai,dibanding arsitektur metropolitan yang berestetika. Karna esensi keindahan adalah terlepas dan menikmati ciptaan-Nya.
Untuk kesekian rasa yang kukirimkan pada tuan neptunus,aku masih belum mau pulang. Rona langit yang begitu mesra membuat aku ingin menetap dan terus hanyut dalam uraian gradasinya. Tetapi aku juga tak mau egois untuk tetap bertahan pada masa ini,karna beberapa waktu dari sekarang ada pelukan api unggun dan panggangan hewan laut yang menanti.
Jujur,ini semua menjadi bimbang. Antara bahagia karna meluangkan waktu bersama atau benci karna hari akan kembali menggulung. Tuhan,tolonglah hambamu ini melerai perasaan gaduh,perihal mengikhlaskan mentari pulang bersama selimut jingganya,dan berganti malam yang tenang. Sampai jumpa biota laut,sampai jumpa samudra,dan senja yang kembali pulang. Sampai bertemu di hari membahagiakan berikutnya.
-I dedicated this poem for my friend

0 komentar:
Posting Komentar