Dosa terbaik


   Hari ini puisiku bercerita. Ia menceritakan tentang luka dan duka. Ia bercerita bahwa rindu adalah dosa. Karna itu aku tak boleh melakukan itu. Tapi seperti yang kau tau aku adalah pendosa hebat. Aku merindu di setiap satu jam awal dan satu jam akhir menutup mata.
 
   Tuhan maafkan aku, aku hamba kafir. Aku rela mendosa karnanya. Entah berapa dosa yang berlalu atau kau gandakan. Tapi tuhan maaf, hambamu ini tak henti-henti mengagumi. Dirinya yang semu selalu ku damba.

   Rindu yang bermetamorfosa menjadi cinta,menambah dosa ini semakin berat. Aku tau ini salah,dan terlalu banyak pemakluman untukku. Tapi tuhan, tolong ikhlaskan aku mendosa perihal kali ini saja. Tentang sesuatu yang murni di bumi, dan benar-benar kurasa.

   Jika katamu merindukan orang yang bukan milikmu adalah khianat,maafkan aku tuhan. Karna aku tak bisa berlaku acuh dan menolak yang ada. Aku tak mau menjadi hamba munafik yang melakukan konflik hati. Aku ingin pikiran dan perasaanku selaras. Tanpa merasa sesalah ini,dan tanpa ada dusta disetiap bagian.

   Jadi biarkan rasa yang nista ini milikku. Rasa bahagianya ia,biarkanlah miliknya. Bukan kuasaku untuk menggubris itu. Karna bahagianya,adalah hidupnya. Bahagiaku,adalah ia. Dan itu sudah menjadi hakiki untuknya.

   Bukankah mencintai dan merindukan dalam diam adalah seni? Dan apakah tuhan menyalahkan atau membenci seni? Jika tidak,maka aku akan terus melakukan itu. Dan maaf; untuk kesekian rindu dan cinta yang terus aku lakukan.

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Pages

Pencarian Jejak

Boddah. Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

To get the latest update of me and my works

>> <<