Mungkin kita tidak akan bertemu lagi,bersapa ramah,bercanda lepas,tertawa bebas. Bukan karna aku tak mau,bukan karna kamu yang menganggapnya usai,bukan karna orang lain,bukan. Tapi karna Tuhan. Bukan juga aku menyalahkan-Nya. Tapi aku hanya memberitahu apa yang terjadi saat ini. Bahwa Tuhan,tidak mengijinkan kita bertemu ataupun bersama.
Aku bersumpah itu bukan mauku,walau sebenarnya itu maumu. Tapi sumpahku hanyalah sebuah janji,dan janjiku hanya sebuah ucapan siswa yang dikumandangkan setiap senin pagi. Yang menjadikanmu jenuh akan ucapan dan ikatan. Bahwa itu hal yang biasa dan lazim terdengar,bagi seorang yang telah tenggelam dalam dosa dan ingin tetap mengambang untuk hidup dalam naungan.
Tidak,aku tidak begitu. Janjiku adalah taliku. Janjiku adalah diriku. Janjiku adalah bagian sel yang mengalir penuh di setiap darahku. aku tidak akan menistakannya. Tidak denganmu. Tidak dengan diriku. Tidak dengan kita. Kita yang ada. Kita yang lalu.
Saat dimana putih abu-abu mendominasi,dan batas jurusan menjadi dinding penyekat. Suatu pembatas yang dapat kita lalui dan robohkan. Dan temanmu menjadi jembatan penghubungnya. Lalu dengan singkat kita saling mengisi ruang kosong. Dengan kuning mentari mulanya,sampai hitam gulita akhirnya. Tak lupa kita mendekor hari dengan bunga,serta lebah mungil yang menyengat, menandakan bahwa hari itu bahagia kita siap panen. Tapi itu dulu,ketika musim belum berganti. Jauh sebelum kabut menghapus jejak jalan pulang.
Lalu,apabila pada akhirnya kamu pergi bersama senja yang melambaikannya dengan hujan. Aku berharap kita sempat membuat kertas janji. Dimana ada materai 6000 dan tanda tanganku diatasnya. Bersama tinta dan kesalahanku yang pekat,kuharap janji itu mengikat dan membuatmu tenang. Bahwa kata-kataku adalah ada dan dapat kau peluk ketika tidak melihat asa di dalam rasa.
Dan semua perjanjian ini berakhir ketika perang dingin usai. Suatu hari dimana kamu mendapat tempat yang hangat di pelukannya. Beserta janji yang ada telah pudar tersapu air mata. Dengan puisiku yang terus mengiringi tapak kakimu melangkah,semua ini akan kembali normal. Keadaan dimana kamu bisa kembali bahagia dan tertawa bebas seperti dulu,dengan keadaan kamu dengannya,dan aku yang mendoakan. Seperti katamu; Cinta,kuharap kau bahagia.

0 komentar:
Posting Komentar