Mentariku pergi
Musim panas yang terik di bulan Mei.
Hari ini masih seperti pada minggu yang sama.
Hujan kerap turun pada malam kelabu.
Noda yang pekatpun tak tersapu,
jadi kubiarkan asa terhapus debu,
dan menghilang bersama dedaunan yang gugur.
.
.
Ironi,
ketika mencuri pandang dalam rasa,
dan memeluk bayang dalam senyap.
Merintih hujan dalam sehelai katun.
Merajam luka pada sebuah rasa.
Dibutakan oleh sejuta warna.
Dan gelak tawa hanya sebuah parodi.
.
.
Terbelenggu,
terjebak,
dan tenggelam dalam kenestapaan yang kelam.
Menanti senja untuk bersemi.
Dengan sajak,
dengan bait,
dalam aksara.
Hingga bermigrasi menuju masa yang pasti.
Sampai akhirnya titik temu;
pelipur sendu dan rindu.

0 komentar:
Posting Komentar