Sajak terakhir
Ia mati dalam sajaknya.
Sejak sepekan lalu,
penanya berhenti bernafas.
Tinta hitamnya yang pekat,
kini tak lagi tergores.
Buku tabib sucinya,
sudah tak ada dosa lagi yang terjabar.
Putih,
abu-abu,
hitam,
pudar.
Aksara senyap di lalap waktu.
Rasa sekarat menunggu asa.
Transenden yang kasat oleh jarak.
Di temani hujan,
ia mengadu manja pada sebuah tangisnya awan.
Perihal matahari yang lenyap,
dan senja yang lupa jalan pulang;
tentang jingganya,
tentang rindunya,
ataupun kehadiran dan kepergiannya.

0 komentar:
Posting Komentar