Pohon menyedihkan
Kau tahu,
mungkin saat ini hatiku sedang hambar.
Bukan karna sudah mati atau tiada,
mungkin ia butuh sedikit rasa.
Ia telah memutih dan menua untuk lenyap.
Pucat dan lesuh.
Lemah dan pupus.
Seperti tak ada sabtu di hari esok.
Seandainya ia punya ranting,
saat ini rantingnya sedang rapuh.
Sapaan dari tanganmu pun dapat merobohkannya.
Seandainya ia punya daun,
saat ini daunnya sedang menguning dan mengering.
Hembusan nafasmu pun dapat menjadikannya abu.
Seandainya ia punya akar,
saat ini akarnya sedang sekarat.
Bukan karna dosa dan malaikat yang akan mengajaknya pulang.
Namun ia tak lagi menyerap hara kebahagiaan dihidupnya.
Dan ia gugur sebelum waktunya.
Seperti halnya prajurit yang tumbang di medan perang.
Bergelimpah luka dan air mata.
Tak luput mengubur semua asa dengan duka.
Cinta,
ia kehilangan zat terpenting untuk mempertahankan hidup.
Sesuatu yang membuat ia bertahan dari hutan buruk ini.
Dan tak ada seandainya untuk berbuah.
Karna ia sudah tak dapat memanen kebahagiaan.
Kebahagiannya pergi,
pohonnya tumbang,
pujaannya lari,
hatinya melayang.

0 komentar:
Posting Komentar